13 Mei 2012

HIKAYAT ADALAH


Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.
Contoh:
MIMPI DAN IRISAN ROTI
Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.
Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. “Inilah mimpiku,” kata yang pertama. “Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, ‘Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian.”
“Aneh sekali,” kata musafir kedua. “Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, ‘Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia.”
Musafir ketiga berkata, “Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam.”





Contoh cerpen
MOMEN ROMANTIS NESSIE
Cerpen Syariffa

Beberapa hari belakangan ini, cuaca sukar diprediksi. Hujan, tiba-tiba, sering turun dengan lebatnya, bahkan disertai angin kencang dan petir bersahutan. Pulang sekolah, aku harus dua kali naik kendaraan umum. Kalau Mas Dodi mengabarkan akan menjemputku hari ini, aku tentu senang sekali. Kalau tidak, aku terpaksa pulang sendiri, berebut mengejar angkot hingga malam tiba.

Dan hari ini, aku benar-benar tidak mungkin mengharapkan Mas Dodi segera hadir menjemputku dengan mobilnya. Barusan dia sms “KEJEBAK MACET JEMPUT MAMA DI TANAH ABANG”. Harapanku kini, hujan yang tiba-tiba turun segera berhenti. Paling tidak, setelah aku sampai di depan rumahku nanti hujan sudah reda.

Saat mikrolet yang kutumpangi berhenti di seberang jalan depan rumahku, senja yang gelap sudah berganti malam dan hujan belum berhenti juga. Aku terpaksa berlari dan berteduh di halte untuk sementara. Beberapa pengendara sepeda motor sudah banyak memenuhi halte. Jaket dan pakaian mereka sudah basah kuyup. Seorang bapal tua sedang melindungi isi gerobak barang-barang rongsongkannya dengan plastik. Ada juga bocah lelaki yang termenung karenasebagian koran jualannya basah dan belum terjual. Beberapa ibu dan anak-anak sekolah asyik makan gorengan sambil ngerumpo tertawa cekikikan.

Puas menatap orang-orang disekelilingku, di tengah terpaan cahaya lampu-lampu kendaraan yang lewat, sesosok  gadis kecil tampak menyeberang jalan menuju halte tempatku berteduh. Di tangannya, ada sebuah payung yang tidak terlalu besar.

Baju gadis kecil itu sudah basah kuyup ketika dia tiba di halte. Wajah imutnya mirip salah satu bintang sinetron cilik yang pernah kulihat di salah satu stasiun televisi. Beberapa orang anak sekolah dan ibu-ibu segera menyerbu gadis kecil itu. Tapi ketika gadis kecil itu melihat ke arahku, dia cepat menghampiriku, sepertinya dia sudah mengenalku sebelumnya.

Dia hanya menawarkan payungnya untukku.
“Ayo, Kak ikut payungku!” gadis kecil dengan lesung pipinya yang manis berkata padaku dengan polosnya.
“Apa kau mengenalku adik manis?” tanyaku sambil jongkok menyamai tinggi gadis kecil itu.
“Aku kenal. Kakak adalah teman kakaku. Nama kakak Nessie kan?” adik kecil itu balik bertanya padaku.
“Iya. Bagaimana kau bisa tahu, Dik?” tanyaku keheranan.
“Aku adiknya Kak Dheni. Teman kakak sewaktu SMP.” Jelasnya sambil menyungginggkan senyum yang membuat aku gemas.
“Dheni? Apakah dia yang menyuruhmu?”
“Tidak, Kak. Aku tadi baru pulang dari sekolah lalu melihat kakak. Ayo, Kak kuberi tumpangan dengan payung ini.” Tawar gadis kecil itu padaku.
“Manis sekali kau. Ayo kugendong! Akan kuantar kau pulang adik manis.” Kataku yang lalu mengambil payung berukuran sedang gadis kecil itu dan menggendongnya. Tak kuhiraukan bajuku yang sebagian basah karena harus menggendong gadis kecil yang basah kuyup ini.
   
Kuantarkan Shita kerumahnya dengan membawa payung berukuran sedangnya. Aku memutuskan untuk mengantar Shita ke rumahnya. Ada rasa khawatir diriku jika harus melihat gadis kecil ini berjalan sendiri ke rumahnya. Di perjalanan, belakangan kuketahui bahwa nama gadis kecil ini adalah Shita. Adik teman semasa SMPku dulu. Shita baru saja pulang dari rumah temannya untuk bermain. Lalu tiba-tiba turun hujan deras. Shita terpaksa harus menunggu sampai hujan reda. Namun, hujan tak kunjung reda. Ia takut ibunya akan khawatir. Shita membulatkan tekat untuk menerobos hujan menggunakan payung. Sialnya, tubuh kecil Shita tidak kuat menahan terpaan angin kencang yang membuat payungnya lepas dari genggaman tangan Shita. Walhasil ia jadi basah kuyup seperti sekarang ini.

Ketika sudah sampai di depan rumah, kuketuk pintu depan rumahnya.
“Assalamualaikum. . Assalamualaikum.” Kataku sambil mengertuk pintu rumah yang minimalis itu.
   
Sayup-sayup, aku mendengar suara pemuda menjawab salamku. Seorang pemuda yang sebaya denganku membuka pintu itu. Ia terpana kaget ketika melihat diriku menggendong Shita. Namun tatapan kaget itu sekejap hilang oleh senyum ramah dan hangatnya.
“Nessie? Kok bisa sama Shita?” tanya Dheni penasaran.
“Tadi aku ketemu adikmu di halte. Entah kenapa dia mengenaliku dan menawariku tumpangan payung. Shita bilang dia adikmu. Jadi kuantar dia kesini.” Jelasku panjang lebar.
“Iyadong Shita kenal kakak. Secara Kak Dhen. . . . .”
“Shita, sebaiknya kamu ganti baju dulu!” potong Dheni cepat-cepat.
“Siapa Dhen? Adikmu?” tiba-tiba suara lembut perempuan memecah rasa penasaranku.
“Iya, Bu. Bersama dengan Nessie.” Jawab Dheni.

Ibu Dheni, dengan senyum ramahnya mempersilakan aku masuk ke rumah sederhana yang hangat. Dengan senang hati aku masuk ke ruang tamu. Ini lebih baik daripada harus menunggu hujan lebat di luar untuk berhenti.
Ruang tamu ini, meskipun lebih kecil daripada ruang tamu yang ada dirumahku, tetapi terasa hangat, bersih dan nyaman. Aku merasa seperti sedang berada di rumah sendiri.

Ibu Dheni masuk kedalam dan meninggalkan aku dan Dheni di ruang tamu. Mungkin beliau ingin membantu Shita mengganti pakaiannya.
“Kamu jadi ikut basah ya?” pertanyaan Dheni memecah kesunyian yang ada diantara kami.
“Ah cuma sedikit kok. Gak apa-apa. Eh, ngomong-ngomong, kok adikmu bisa mengenaliku? Aku sendiri saja jarang melihat dia.” Tanyaku penasaran.
“Ah itu. . . biasa anak kecil suka bertanya-tanya. Dia tahu kamu  waktu dia melihat foto-foto album kenangan ketika SMP dulu”
“Oh. . .” jawabku santai.
   
Tak berapa lama, ibu Dheni masuk ke ruang tamu lagi membawa tiga cangkir teh dan setoples biskuit. Mungkin Ibu Dheni tahu kalau aku sedang merasa kedinginan saat ini. Tepat waktu sekali. Batinku dalam hati. Ibu Dheni lalu mempersilahkanku unyk minum. Dengan senang hati aku mengambil cangkir itu lalu menyeruput isinya seteguk yang lalu masuk lewat mulutku dan ke kerongkonganku. Ah. . . .segarnya.

Aku merasa sudah terlalu lama transit di rumah Dheni. Sudah semakin malam. Aku lalu memutuskan untuk meminjam payung di rumah Dheni.

Ibunya memaksa Dheni untuk mengantarku pulang. Padahal jarak antara rumah kami kira-kira hanya 300 m.
“Sudah malam, Ness. Biarkan Dheni mengantarmu pulang.” Paksa ibu Dheni.

Akhirnya, aku dan Dheni keluar rumah. Masing-masing membawa satu payung. Ketika aku sudah sampai  diseberang rumah, aku cepat-cepat lari menyeberang dan tidak memperhatikan kanan-kiri jalan. Tiba-tiba ada cahaya lampu. Aku menengok untuk melihat cahaya lampu itu, ternyata itu adalah cahaya lampu mobil yang jaraknya sudah sangat dekat denganku. Aku sudah berfikir bahwa aku akan dihantam oleh mobil itu, ketika aku memejamkan mata, cengkraman tangan yang kuat menarikku. Aku berbalik dan terhuyung. Dheni menarikku menjauhi mobil dan ia akhirnya membelakangi sisi kanan mobil dan berdiri dihadapanku. Ternyata di jalan itu ada kubangan air. Mobil melewati kubangan air itu dan menyipratkan airnya ke bagian belakag tubuh Dheni.
“Ness, kau tidak apa-apa?” tanya Dheni sambil melihat wajahku yang melongo.
“Aku? Aku sih tidak apa-apa. Tapi kamu jadi basah kuyup.” Kataku hampir histeris.
“Ah ini. . .tidak apa-apa.”
   
Kami lalu berjalan kedepan gerbang rumahku,
“Terimakasih telah menolongku, Dhen. Mau mampir dulu? Aku rasa kakakku punya baju ganti untukmu.” Tawarku.
“Sama-sama. Lain kali saja aku mampir. Ini sudah malam. Aku bisa ganti baju dirumah nanti. Aku pulang dulu ya!”
“Yasudah. Hati-hati. Terimakasih sekali atas pertolonganmu.” Kataku sambil tersenyum.

Dheni hanya tersenyum membalasku sambil mengangguk lalu berbalik arah untuk kembali menuju rumahnya. Aku berjalan memasuki halaman rumah melewati gerbang sambil senyam-senyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja kualami. Seandainya aku tadi tidak ceroboh mungkin kejadian tadi tidak akan terjadi. Lain kali, aku tidak boleh ceroboh. Kataku dalam hati sambil senyam-senyum mengingat kejadian romantis tadi.

Some of the tips below, it may help you to obtain credit from banks.


Some of the tips below, it may help you to obtain credit from banks.

A. Make sure the bank officer, that the credit you need it for business loans. Ask a bank loan to really know your business. You do not be afraid, because this is actually desired loan by a bank officer. To increase the odds that an active search for bank providing financing for the SME business. There are several banks and financial institutions that provide conventional loans without government support. However, you must remember that banks often demand stiff collateral requirements for start-ups.

2. As an entrepreneur, make sure that you are really ready to bank datanga pinjamann dngan filed. You should be able to convince the bank that your proposed loan is a risky small business loans. Prepare a loan application form which sudah complete copy of the cash flow projections, financial statement projections for the next three years.

3. Prepare a proper answer to the question posed Remember, the combination of information and preparation is a powerful tool in the world. A careful borrower will have the opportunity and prepared four times greater than the borrowers who are not ready and did not answer the question posed by a bank officer. To show the extent of your preparedness, your business plan should answer the question bank. Questions include: How much money do you need? How long do you need it? Please answer in detail about the use of these funds and why your business is a small risk. What are you going to do for it? Explain that your cash flow projections will be smooth and you run a business that could provide long-term benefits. Show that you are able to manage the funds through a business plan (business plan) then what would you do if your loan proposal is rejected?

4. Do not be sorry danmeminta negative Watch your negative attitude. Present yourself as an entrepreneur who can repay the loan. Highlight the image (image) by providing business promotional items, such as brochures, advertisements, articles, press releases to the bank.

5. Choose the credit or loans without angunan without angunan that makes you lighter, but you should still consider the letter of the loan agreement has been made.

6. Do not go overboard in filling out loan applications the bank can easily check the facts of your application. If you are unable to provide information that is supported by solid data, it should not be included in the petition. Take the time to do the research so as to present a plausible explanation. It would be better if you are a prospective business and have assets and collateral (security)

7. Still trying to find loans (cash loans) until it works If you are turned down, find another bank. Look for the reference of a successful businessman. Before you to the bank directly, find friends, colleagues or acquaintances who have a good position with the bank. The bank usually prefers to do business with people who are referred by their best customers.

SEJARAH REOG


Sejarah dari kesenian Reog ini bermula pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan Majapahit pada abad ke-15 dimana pada masa itu kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan  Bhre Kertabhumi yang merupakan raja terakhir kerajaan Majapahit. Ki Ageng Kutu murka terhadap perilaku rajanya yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit tak lama lagi akan berakhir. Ia pun pergi meninggalkan kerajaan dan mendirikan sebuah perguruan Seni Bela Diri dengan harapan dapat memunculkan bibit-bibit yang dapat memegang kekuasaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukan yang dimilinya tidak mampu menandingi pasukan Majapahit maka pesan Politis Ki Ageng Kutu pun disampaikan melalui pertunjukan Reog. Pagelaran Reog dimanfaatkan Ki Ageng Kutu untuk membangun perlawanan masyarakat terhadap kerajaan.
Dalam pertunjukan kesenian Reog ini ditampilkan topeng berbentuk  kepala singa yang biasa disebut “Singo Barong”, raja hutan yang menjadi simbol Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok. topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singobarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Dan akhirnya Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Kertabumi menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya
Berikut karakter-karakter dalam Kesenian Reog Ponorogo
Topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singo Barong“, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
Singo Barong
Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit
Tathilan
Pujangganong atau Bujangganong adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan, cerdik, jenaka, dan sakti. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa, hidung panjang, mata melotot, mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring, wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan.
Bujangganong
Klana Sewandana atau Klono : Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo zaman dahulu. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota, wajah berwarna merah, mata besar melotot, dan kumis tipis. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman; berbentuk tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug.
Klana Sewandana
Warok Suromenggolo. Dalam pentas, sosok warok lebih terlihat sebagai pengawal/punggawa raja Klana Sewandana (warok muda) atau sesepuh dan guru (warok tua). Dalam pentas, sosok warok muda digambarkan tengah berlatih mengolah ilmu kanuragan, digambarkan berbadan gempal dengan bulu dada, kumis dan jambang lebat serta mata yang tajam. Sementara warok tua digambarkan sebagai pelatih atau pengawas warok muda yang digambarkan berbadan kurus, berjanggut putih panjang, dan berjalan dengan bantuan tongkat.

13 Mei 2012

HIKAYAT ADALAH


Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.
Contoh:
MIMPI DAN IRISAN ROTI
Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.
Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. “Inilah mimpiku,” kata yang pertama. “Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, ‘Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian.”
“Aneh sekali,” kata musafir kedua. “Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, ‘Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia.”
Musafir ketiga berkata, “Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam.”





Contoh cerpen
MOMEN ROMANTIS NESSIE
Cerpen Syariffa

Beberapa hari belakangan ini, cuaca sukar diprediksi. Hujan, tiba-tiba, sering turun dengan lebatnya, bahkan disertai angin kencang dan petir bersahutan. Pulang sekolah, aku harus dua kali naik kendaraan umum. Kalau Mas Dodi mengabarkan akan menjemputku hari ini, aku tentu senang sekali. Kalau tidak, aku terpaksa pulang sendiri, berebut mengejar angkot hingga malam tiba.

Dan hari ini, aku benar-benar tidak mungkin mengharapkan Mas Dodi segera hadir menjemputku dengan mobilnya. Barusan dia sms “KEJEBAK MACET JEMPUT MAMA DI TANAH ABANG”. Harapanku kini, hujan yang tiba-tiba turun segera berhenti. Paling tidak, setelah aku sampai di depan rumahku nanti hujan sudah reda.

Saat mikrolet yang kutumpangi berhenti di seberang jalan depan rumahku, senja yang gelap sudah berganti malam dan hujan belum berhenti juga. Aku terpaksa berlari dan berteduh di halte untuk sementara. Beberapa pengendara sepeda motor sudah banyak memenuhi halte. Jaket dan pakaian mereka sudah basah kuyup. Seorang bapal tua sedang melindungi isi gerobak barang-barang rongsongkannya dengan plastik. Ada juga bocah lelaki yang termenung karenasebagian koran jualannya basah dan belum terjual. Beberapa ibu dan anak-anak sekolah asyik makan gorengan sambil ngerumpo tertawa cekikikan.

Puas menatap orang-orang disekelilingku, di tengah terpaan cahaya lampu-lampu kendaraan yang lewat, sesosok  gadis kecil tampak menyeberang jalan menuju halte tempatku berteduh. Di tangannya, ada sebuah payung yang tidak terlalu besar.

Baju gadis kecil itu sudah basah kuyup ketika dia tiba di halte. Wajah imutnya mirip salah satu bintang sinetron cilik yang pernah kulihat di salah satu stasiun televisi. Beberapa orang anak sekolah dan ibu-ibu segera menyerbu gadis kecil itu. Tapi ketika gadis kecil itu melihat ke arahku, dia cepat menghampiriku, sepertinya dia sudah mengenalku sebelumnya.

Dia hanya menawarkan payungnya untukku.
“Ayo, Kak ikut payungku!” gadis kecil dengan lesung pipinya yang manis berkata padaku dengan polosnya.
“Apa kau mengenalku adik manis?” tanyaku sambil jongkok menyamai tinggi gadis kecil itu.
“Aku kenal. Kakak adalah teman kakaku. Nama kakak Nessie kan?” adik kecil itu balik bertanya padaku.
“Iya. Bagaimana kau bisa tahu, Dik?” tanyaku keheranan.
“Aku adiknya Kak Dheni. Teman kakak sewaktu SMP.” Jelasnya sambil menyungginggkan senyum yang membuat aku gemas.
“Dheni? Apakah dia yang menyuruhmu?”
“Tidak, Kak. Aku tadi baru pulang dari sekolah lalu melihat kakak. Ayo, Kak kuberi tumpangan dengan payung ini.” Tawar gadis kecil itu padaku.
“Manis sekali kau. Ayo kugendong! Akan kuantar kau pulang adik manis.” Kataku yang lalu mengambil payung berukuran sedang gadis kecil itu dan menggendongnya. Tak kuhiraukan bajuku yang sebagian basah karena harus menggendong gadis kecil yang basah kuyup ini.
   
Kuantarkan Shita kerumahnya dengan membawa payung berukuran sedangnya. Aku memutuskan untuk mengantar Shita ke rumahnya. Ada rasa khawatir diriku jika harus melihat gadis kecil ini berjalan sendiri ke rumahnya. Di perjalanan, belakangan kuketahui bahwa nama gadis kecil ini adalah Shita. Adik teman semasa SMPku dulu. Shita baru saja pulang dari rumah temannya untuk bermain. Lalu tiba-tiba turun hujan deras. Shita terpaksa harus menunggu sampai hujan reda. Namun, hujan tak kunjung reda. Ia takut ibunya akan khawatir. Shita membulatkan tekat untuk menerobos hujan menggunakan payung. Sialnya, tubuh kecil Shita tidak kuat menahan terpaan angin kencang yang membuat payungnya lepas dari genggaman tangan Shita. Walhasil ia jadi basah kuyup seperti sekarang ini.

Ketika sudah sampai di depan rumah, kuketuk pintu depan rumahnya.
“Assalamualaikum. . Assalamualaikum.” Kataku sambil mengertuk pintu rumah yang minimalis itu.
   
Sayup-sayup, aku mendengar suara pemuda menjawab salamku. Seorang pemuda yang sebaya denganku membuka pintu itu. Ia terpana kaget ketika melihat diriku menggendong Shita. Namun tatapan kaget itu sekejap hilang oleh senyum ramah dan hangatnya.
“Nessie? Kok bisa sama Shita?” tanya Dheni penasaran.
“Tadi aku ketemu adikmu di halte. Entah kenapa dia mengenaliku dan menawariku tumpangan payung. Shita bilang dia adikmu. Jadi kuantar dia kesini.” Jelasku panjang lebar.
“Iyadong Shita kenal kakak. Secara Kak Dhen. . . . .”
“Shita, sebaiknya kamu ganti baju dulu!” potong Dheni cepat-cepat.
“Siapa Dhen? Adikmu?” tiba-tiba suara lembut perempuan memecah rasa penasaranku.
“Iya, Bu. Bersama dengan Nessie.” Jawab Dheni.

Ibu Dheni, dengan senyum ramahnya mempersilakan aku masuk ke rumah sederhana yang hangat. Dengan senang hati aku masuk ke ruang tamu. Ini lebih baik daripada harus menunggu hujan lebat di luar untuk berhenti.
Ruang tamu ini, meskipun lebih kecil daripada ruang tamu yang ada dirumahku, tetapi terasa hangat, bersih dan nyaman. Aku merasa seperti sedang berada di rumah sendiri.

Ibu Dheni masuk kedalam dan meninggalkan aku dan Dheni di ruang tamu. Mungkin beliau ingin membantu Shita mengganti pakaiannya.
“Kamu jadi ikut basah ya?” pertanyaan Dheni memecah kesunyian yang ada diantara kami.
“Ah cuma sedikit kok. Gak apa-apa. Eh, ngomong-ngomong, kok adikmu bisa mengenaliku? Aku sendiri saja jarang melihat dia.” Tanyaku penasaran.
“Ah itu. . . biasa anak kecil suka bertanya-tanya. Dia tahu kamu  waktu dia melihat foto-foto album kenangan ketika SMP dulu”
“Oh. . .” jawabku santai.
   
Tak berapa lama, ibu Dheni masuk ke ruang tamu lagi membawa tiga cangkir teh dan setoples biskuit. Mungkin Ibu Dheni tahu kalau aku sedang merasa kedinginan saat ini. Tepat waktu sekali. Batinku dalam hati. Ibu Dheni lalu mempersilahkanku unyk minum. Dengan senang hati aku mengambil cangkir itu lalu menyeruput isinya seteguk yang lalu masuk lewat mulutku dan ke kerongkonganku. Ah. . . .segarnya.

Aku merasa sudah terlalu lama transit di rumah Dheni. Sudah semakin malam. Aku lalu memutuskan untuk meminjam payung di rumah Dheni.

Ibunya memaksa Dheni untuk mengantarku pulang. Padahal jarak antara rumah kami kira-kira hanya 300 m.
“Sudah malam, Ness. Biarkan Dheni mengantarmu pulang.” Paksa ibu Dheni.

Akhirnya, aku dan Dheni keluar rumah. Masing-masing membawa satu payung. Ketika aku sudah sampai  diseberang rumah, aku cepat-cepat lari menyeberang dan tidak memperhatikan kanan-kiri jalan. Tiba-tiba ada cahaya lampu. Aku menengok untuk melihat cahaya lampu itu, ternyata itu adalah cahaya lampu mobil yang jaraknya sudah sangat dekat denganku. Aku sudah berfikir bahwa aku akan dihantam oleh mobil itu, ketika aku memejamkan mata, cengkraman tangan yang kuat menarikku. Aku berbalik dan terhuyung. Dheni menarikku menjauhi mobil dan ia akhirnya membelakangi sisi kanan mobil dan berdiri dihadapanku. Ternyata di jalan itu ada kubangan air. Mobil melewati kubangan air itu dan menyipratkan airnya ke bagian belakag tubuh Dheni.
“Ness, kau tidak apa-apa?” tanya Dheni sambil melihat wajahku yang melongo.
“Aku? Aku sih tidak apa-apa. Tapi kamu jadi basah kuyup.” Kataku hampir histeris.
“Ah ini. . .tidak apa-apa.”
   
Kami lalu berjalan kedepan gerbang rumahku,
“Terimakasih telah menolongku, Dhen. Mau mampir dulu? Aku rasa kakakku punya baju ganti untukmu.” Tawarku.
“Sama-sama. Lain kali saja aku mampir. Ini sudah malam. Aku bisa ganti baju dirumah nanti. Aku pulang dulu ya!”
“Yasudah. Hati-hati. Terimakasih sekali atas pertolonganmu.” Kataku sambil tersenyum.

Dheni hanya tersenyum membalasku sambil mengangguk lalu berbalik arah untuk kembali menuju rumahnya. Aku berjalan memasuki halaman rumah melewati gerbang sambil senyam-senyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja kualami. Seandainya aku tadi tidak ceroboh mungkin kejadian tadi tidak akan terjadi. Lain kali, aku tidak boleh ceroboh. Kataku dalam hati sambil senyam-senyum mengingat kejadian romantis tadi.

Some of the tips below, it may help you to obtain credit from banks.


Some of the tips below, it may help you to obtain credit from banks.

A. Make sure the bank officer, that the credit you need it for business loans. Ask a bank loan to really know your business. You do not be afraid, because this is actually desired loan by a bank officer. To increase the odds that an active search for bank providing financing for the SME business. There are several banks and financial institutions that provide conventional loans without government support. However, you must remember that banks often demand stiff collateral requirements for start-ups.

2. As an entrepreneur, make sure that you are really ready to bank datanga pinjamann dngan filed. You should be able to convince the bank that your proposed loan is a risky small business loans. Prepare a loan application form which sudah complete copy of the cash flow projections, financial statement projections for the next three years.

3. Prepare a proper answer to the question posed Remember, the combination of information and preparation is a powerful tool in the world. A careful borrower will have the opportunity and prepared four times greater than the borrowers who are not ready and did not answer the question posed by a bank officer. To show the extent of your preparedness, your business plan should answer the question bank. Questions include: How much money do you need? How long do you need it? Please answer in detail about the use of these funds and why your business is a small risk. What are you going to do for it? Explain that your cash flow projections will be smooth and you run a business that could provide long-term benefits. Show that you are able to manage the funds through a business plan (business plan) then what would you do if your loan proposal is rejected?

4. Do not be sorry danmeminta negative Watch your negative attitude. Present yourself as an entrepreneur who can repay the loan. Highlight the image (image) by providing business promotional items, such as brochures, advertisements, articles, press releases to the bank.

5. Choose the credit or loans without angunan without angunan that makes you lighter, but you should still consider the letter of the loan agreement has been made.

6. Do not go overboard in filling out loan applications the bank can easily check the facts of your application. If you are unable to provide information that is supported by solid data, it should not be included in the petition. Take the time to do the research so as to present a plausible explanation. It would be better if you are a prospective business and have assets and collateral (security)

7. Still trying to find loans (cash loans) until it works If you are turned down, find another bank. Look for the reference of a successful businessman. Before you to the bank directly, find friends, colleagues or acquaintances who have a good position with the bank. The bank usually prefers to do business with people who are referred by their best customers.

SEJARAH REOG


Sejarah dari kesenian Reog ini bermula pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan Majapahit pada abad ke-15 dimana pada masa itu kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan  Bhre Kertabhumi yang merupakan raja terakhir kerajaan Majapahit. Ki Ageng Kutu murka terhadap perilaku rajanya yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit tak lama lagi akan berakhir. Ia pun pergi meninggalkan kerajaan dan mendirikan sebuah perguruan Seni Bela Diri dengan harapan dapat memunculkan bibit-bibit yang dapat memegang kekuasaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukan yang dimilinya tidak mampu menandingi pasukan Majapahit maka pesan Politis Ki Ageng Kutu pun disampaikan melalui pertunjukan Reog. Pagelaran Reog dimanfaatkan Ki Ageng Kutu untuk membangun perlawanan masyarakat terhadap kerajaan.
Dalam pertunjukan kesenian Reog ini ditampilkan topeng berbentuk  kepala singa yang biasa disebut “Singo Barong”, raja hutan yang menjadi simbol Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok. topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singobarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Dan akhirnya Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Kertabumi menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya
Berikut karakter-karakter dalam Kesenian Reog Ponorogo
Topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singo Barong“, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
Singo Barong
Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit
Tathilan
Pujangganong atau Bujangganong adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan, cerdik, jenaka, dan sakti. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa, hidung panjang, mata melotot, mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring, wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan.
Bujangganong
Klana Sewandana atau Klono : Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo zaman dahulu. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota, wajah berwarna merah, mata besar melotot, dan kumis tipis. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman; berbentuk tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug.
Klana Sewandana
Warok Suromenggolo. Dalam pentas, sosok warok lebih terlihat sebagai pengawal/punggawa raja Klana Sewandana (warok muda) atau sesepuh dan guru (warok tua). Dalam pentas, sosok warok muda digambarkan tengah berlatih mengolah ilmu kanuragan, digambarkan berbadan gempal dengan bulu dada, kumis dan jambang lebat serta mata yang tajam. Sementara warok tua digambarkan sebagai pelatih atau pengawas warok muda yang digambarkan berbadan kurus, berjanggut putih panjang, dan berjalan dengan bantuan tongkat.